Minggu, 13 September 2009

Asalku

PINRANG-LEPPANGANG, adalah sebuah tempat yang sangat berkesan bagi kehidupanku, tempat di mana pertama kali aku melantunkan tangisanku, pertama kali merasakan pentingnya kehadiran seorang ibu, bapak, saudara dan sahabat.

Di sana saya merasakan senangnya bermain; berlari dan bermalam di sawah sambil menjaga itik, sapi, mencari jambu, kelapa atau rambutan tetangga yang jatuh sesekali naik traktor yang sedang membajak, upss..sering juga sih digigit lintah yang biasanya menimbulkan luka kalau dilepas, tapi tenang... saya selalu siapkan minyak tanah untuk membuat lintah tak bergerak lagi. Yang paling menyenangkan adalah ketika saya mulai mengayuh sepeda melewati kebun -kebun menuju pembatas antara kebun dengan sawah untuk menyambut mekarnya fajar dari sela-sela gunung yang diiringi oleh goresan lembut Ilahi di kaki langit yang menghiasi segarnya hembusan bayu, eitss.. tunggu dulu, yang tidak kala serunya ialah setiap senja biasanya saya senang duduk di teras rumah untuk melihat rona langit ketika sedang mengantar kepergian mentari. menyaksikan keindahan langit memang sangat menyenangkan, dalam pergantian waktu akan menampilkan warna yang berbeda, hmm.. cahaya matahari yang baru muncul, mulai terasa terik, panas, kembali redup, hingga berganti cahaya bulan senantiasa diiringi goresan langit dan udara yang berbeda, tapi kalau ada yang berminat melihat dan merasakan teduhnya langit yang diselimuti kasih sayang Allah, saya sarankan untuk melihatnya didetik-detik azan subuh akan dikumandangkan. Wallahu a'lam.

Desaku... kini saya tidak lagi sering bermain di sana sahabat-sahabatku pun tidak lagi sebebas dulu, keindahan langitnya pun kadang tidak sempat lagi kunikmati. Ibuku...permata hatiku, pun kini telah berselimut tanah desaku.

Desaku...aku masih seperti dulu, masih merindukan langitmu, merindukan kebebasan ekspresiku, merindukan perubahan wajahmu, bahkan cita-citaku pun masih seperti dulu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar